Main Article Content

Abstract

Tujuan umum penelitian ini adalah 1) mengikaji nilai-nilai kearifan lokal budaya masaurat di desa Ubung; dan mengidentifikasi makna dan fungsi budaya masaurat di desa Ubung; 2) mengidentifikasi makna dan fungsi tradisi masaurat di Desa Ubung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan kultural. Data diperoleh dari data primer dengan sumber data berasal dari aparat desa, tokoh masyarakat, dan masyarakat Desa Ubung. Metode dalam penelitian ini adalah observasi non partisiatif dengan teknik survei lapangan (field study), wawancara (interview), dan studi dokumentasi. Tahap analisis data, meliputi pengidentifikasian data, pengklasifikasian data, dan penganalisisan data. Hasil penelitian menunjukkan tradisi masaurat sarat dengan nilai kearifan lokal. Nilai-nilai kearifan dalam tradisi masaurat berupa (a) nilai kebersamaan; (b) kekeluargaan; (c) musyawarah  mufakat; (d) gotong royong; (e) partisipatif; (f) peduli sosial; (g) rasa kasih saying; (h) kerendahan hati; (i) perhatian; (j) setia kawan. Makna tradisi masaurat bagi masyarakat Maluku khususnya warga desa Ubung adalah bahwa manusia Maluku bukan hanya manusia yang berpribadi tunggal melainkan mereka memiliki ekspresi sebagai manusia Maluku yang memahami dan menunjukkan diri sebagai homo sosial. Sementara, fungsi tradisi masaurat bagi masyarakat Maluku, khususnya masyarakat desa Ubung adalah (a) untuk menjaga warisan dari para tetua adat manusia Maluku; (b) untuk memelihara, melindungi, dan melestarikan nilai-nilai tradisi masaurat yang sarat dengan kai wait, kebersamaan, dan kekeluargaan; (c) untuk mengembangkan dan memeberi ilmu serta wawasan kepada para generasi tentang makna hidup serasa dan sepenanggungan dalam hidup sosial dan lain-lain.

Keywords

Nilai Kearifan Lokal Tradisi Masaurat Kabupaten Buru

Article Details

Author Biographies

La Husni Buton, Universitas Iqra Buru

FAI, Universitas Iqra Buru, Indonesia

Susiati Susiati, Universitas Iqra Buru

Fakultas Sastra, Universitas Iqra Buru, Indonesia

Andi Masniati, Universitas Iqra Buru

Fakultas Sastra, Universitas Iqra Buru, Indonesia

Roos Nilawati Marasabessy, Universitas Iqra Buru

FAPERIK, Universitas Iqra Buru, Indonesia

How to Cite
Amir, N., Buton, L. H., Susiati, S., Masniati, A., & Marasabessy, R. (2021). Kearifan Lokal Tardisi Masaurat. Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton, 7(3), 451-464. Retrieved from https://jurnal-umbuton.ac.id/index.php/Pencerah/article/view/916

References

  1. Anwar, K. (2013). Makna Kultural dan Sosial-Ekonomi Tradisi Syawalan. Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, 21(2), 437-468.
  2. Apriyanto, Y. I., & Fernando, E. R. (2008). Kearifan Lokal dalam mewujudkan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan. Bogor: Institute Pertanian Bogor.
  3. Eirumkuy, E. (2013). Suku Bangsa di Kabupaten Buru. Jurnal Penelitian, 1(5), 122–150.
  4. Hakim, M. (2005). Metodologi Studi Islam. Malang: UMM.
  5. Hasan, N. (2017). Makna dan Fungsi Tradisi Samman. IBDA: Jurnal Kajian Islam dan Budaya, 15(1), 112-134.
  6. Istanti, K. Z. (2007). Wujud Kearifan Lokal Teks Amir Hamzah Nusantara. IBDA: Jurnal Kajian Ilmu dan Budaya, 5(1), 15-26.
  7. Mulyana, D., & Rahmat, J. (2009). Komunikasi Antarbudaya. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  8. Musafiri, A., Utaya, & Astina. (2016). Peran Kearifan Lokal bagi Pengembangan Pendidikan Karakter pada Sekolah Menengah Atas. Jurnal Pendidikan, Komunikasi dan Pemikiran Hukum Islam, III(1), 1-9.
  9. Naing, N., & dkk. (2009). Kearifan Lokal Tradisional Masyarakat Nelayan pada Permukiman Mengapung di Danau Tempe Sulawesi Selatan. Jurnal Local Wisdom, 1(1), 19-26.
  10. Nasional, D. P. (2013). Kamus Besar Bahasa Indonesia . Jakarta: Balai Pustaka.
  11. Rahyono, F. X. (2009). Kearifan Budaya Dalam Kata. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
  12. Rais, M. (2010). Islam dan Kearifan Lokal: Dialektika Faham dan Praktik Keagamaan Komunitas Kokoda-Papua dalam Budaya Lokal. Sorong: Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri .
  13. Sartini. (2013). Menggali Kearifan Lokal Nusantara: Sebuah Kajian Filsafat. Jurnal Filsafat, V(2), 10-23.
  14. Sibarani, R. (2012). Kearifan Lokal: Hakikat, Peran, dan Metode Tradisi Lisan. Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan.
  15. Sriwardani, N., Dienaputra, R. D., Machdalena, S., & Kartika, N. (2020). Ruang Adat di Kampung Dukuh Dalam sebagai Bentuk Kehidupan Spritual. Mudra: Jurnal Seni Budaya, 35(3), 344-351. doi:https://doi.org/10.31091/mudra.v35i3.1127
  16. Wangsa, B. S., Sulistiyo, E. T., & Suyanto. (2019). Makna Budi Pekerti Remaja pada Serat Wulangreh Karya Pakubowo IV: Puput Macapat Durma. Mudra: Jurnal Seni Budaya, 34(1), 325-329.
  17. Watloly, A. (2005). Maluku Baru: Bangkitnya Mesin Eksistensi Anak Negeri . Yogyakarta: Kanisius.
  18. Wiranata, I. G. (2011). Antropologi Budaya. Yogyakarta: Citra Aditya Bakti.
  19. Zulkifli, Sembiring, D., Atmojo, W. T., & Pasaribu, M. (2020). Tradisi dalam Modernisasi Seni Lukis Sumatera Utara: Eksplorasi Kreatif Berbasis Etnitas Batak Toba. Mudra: Jurnal Seni Budaya, 35(3), 352-359. doi:https://doi.org/10.31091/mudra.v35i3.878